Banner_Header

Ngeri Banget!!! Jadi PNS Hasil Nyogok, Gajinya Haram Seumur Hidup?

Buletin Islami - Sekarang ini, banyak kita dengar bahwa dalam penerimaan pegawai; baik swasta maupun negeri (PNS), terjadi sogok-menyogok uang atau suap dengan tujuan agar si pelamar dapat diterima bekerja di tempat yang bersangkutan. Selanjutnya mengenai hal ini, apakah gaji yang diterima oleh si pelamar yang telah menyogok/menyuap itu dapat dikatakan “HALAL”? Bagaimana hukumnya?

Apa yang harus dilakukan jikalau si pelamar telah terlanjur bekerja di tempat tersebut?

Mohon penjelasannya Ustadz.

Terima kasih.

Wassalam.

Dari: Linendra

Ngeri Banget!! Jadi PNS Hasil Nyogok, Gajinya Haram Seumur Hidup?
Ilustrasi: Praktek Suap / Sogok Menyogok

Berikut ini jawaban seputar hukum gaji yang diterima pegawai hasil suap atau nyogok sebagaiman BuletinIslami nukil dari halaman KonsultasiSyariah.com.
Wa’alaikumussalam

Kita semua yakin bahwa melakukan sogok untuk mendapatkan sesuatu yang bukan hak-nya hukumnya haram, bahkan termasuk dosa besar. Yang menanggung dosa bukan hanya penerima sogok, termasuk orang yang menyogok. Termasuk dalam hal ini adalah menyogok untuk mendapatkan pekerjaan. Semua pihak yang terlibat dalam ‘tindak kriminal’ ini turut mendapatkan laknat atas perbuatannya, sampai dia bertaubat.

Untuk kasus sogok dalam rangka mendapatkan pekerjaan, selama penerimaan pegawai untuk lowongan pekerjaan itu berdasarkan tes setiap pelamar, maka sogok dalam kasus ini statusnya haram. Karena sogok bukanlah alasan untuk menentukan siapa yang lebih unggul dan lebih berhak mendapatkan pekerjaan tersebut, dan posisi pekerjaan tersebut bukanlah hak bagi penyogok. Barangkali orang yang masih penerapkan praktik ‘kotor’ semacam ini perlu merenungkan hadis:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang nyogok dan penerima sogok.” (HR. Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah, dan dishahihkan Al-Albani)

Bagaiman Status Gajinya?

Jika si pegawai hasil nyogok ini telah bertaubat kepada Allah, dan telah mensedekahkan sebagian hartanya, maka tidak masalah dia tetap bertahan di posisi tersebut. Dengan syarat: Dia memiliki kemampuan yang memadai untuk melaksanakan tugasnya tersebut, karena mengampu pekerjaan, sementara dia tidak memliki kemampuan termasuk mengkhianati amanah. Dan dampak buruk perbuatannya bisa jadi menimpa banyak orang.

Disadur dari:
Fatawa Islam, oleh Syaikh Muhammad Al-Munajed, no. 112128
Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits


Selayang Pandang: Apa Itu Suap?


Mengomentari hadits yang diriwayatkan Abu Daud, Turmudzi, dan Ibnu Majah diatas beberapa ulama berpendapat, diantaranya:

Ibnul Arabi mengatakan bahwa suap adalah setiap harta yang diberikan kepada seseorang yang memiliki kedudukan untuk membantu atau meluluskan persoalan yang tidak halal. Al-Murtasyi sebutan untuk orang yang menerima suap, Ar-Rasyi sebutan untuk orang yang memberikan suap sedangkan ar ra'isy adalah perantaranya. (Fathul Bari juz V hal 246)

Al Qori mengatakan ar rasyi dan al murtasyi adalah orang yang memberi dan menerima suap, ia merupakan sarana untuk mencapai tujuan dengan bujukan (rayuan). Ada yang mengatakan bahwa suap adalah segala pemberian untuk membatalkan hak seseorang atau memberikan hak kepada orang yang salah. (Aunul Ma'bud juz IX hal 357)

Suap adalah pemberian seseorang yang tidak memiliki hak kepada seseorang yang memiliki kewenangan (jabatan), baik berupa uang, barang atau lainnya untuk membantu si pemberi mendapatkan sesuatu yang bukan haknya atau menzhalimi hak orang lainnya, seperti pemberian hadiah yang dilakukan seseorang agar dirinya diterima sebagai pegawai di suatu perusahaan / instansi, agar anaknya diterima di suatu sekolah favorit/perguruan tinggi, pemberian kepada seorang guru agar anaknya naik kelas, pemberian hadiah kepada seorang hakim agar dia terbebaskan dari hukuman dan lainnya, walaupun fakta yang ada sebenarnya mereka semua tidak berhak atau tidak memiliki persyaratan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dari pemberiannya tersebut.

Al Hafizh menyebutkan suatu riawayat dari Farrat bin Muslim, dia berkata, "Suatu ketika Umar bin Abdul Aziz meninginginkan buah apel dan ia tidak mandapati sesuatu pun dirumahnya yang bisa digunakan untuk membelinya maka kami pun menungang kuda bersamanya. Kemudian dia disambut oleh para biarawan dengan piring-piring yang berisi apel. Umar bin Abdul Aziz mengambil salah satu apel dan menciumnya namun mengembalikannya ke piring tersebut. Aku pun bertanya kepadanya tentang hal itu. Maka dia berkata,"Aku tidak membutuhkannya." Aku bertanya, "Bukankah Rasulullah ﷺ, Abu Bakar dan Umar radiyallahu anhuma menerima hadiah?" dia menjawab, "Sesungguhnya ia bagi mereka semua adalah hadiah sedangkan bagi para pejabat setelah mereka adalah suap." (Fathul Bari juz V hal 245 – 246)

Segeralah bertaubat jika saat ini Anda masih terjerumus dalam praktik suap/sogok.

Sumber:
1. KonsultasiSyariah - https://konsultasisyariah.com/11734-halalkah-gaji-seorang-penyogok.html
2. http://www.tribunnewz.xyz/2016/01/apakah-jadi-pns-hasil-nyogok-apakah.html

[ES/BuletinIslami]


loading...
error: Content is protected !!