Banner_Header

Memaknai Reaksi NU Terhadap Buku 'Sunnah-Sunnah Setelah Kematian' Karya Ustadz Zainal Abidin

Memaknai Reaksi NU Terhadap Buku “Sunnah-Sunnah Setelah Kematian”

Oleh : Dr. Slamet Muliono*

Dinamika dan pergolakan pemikiran antara Islam puritan (murni) dan Islam tradisional kembali menghangat seiring dengan beredarkan sebuah buku yang berjudul “Sunnah-sunnah Setelah Kematian.” Buku karya Zainal Abidin bin Syamsuddin, Lc yang bernuansa akademis, dengan memaparkan sunnah-sunnah Islam pasca kematian seorang hamba itu, didemo kelompok masyarakat yang sudah terbiasa dengan perilaku berbasis budaya.

buku "Sunnah-Sunnah Setelah Kematian" didemo oleh warga NU
Buku "Sunnah-Sunnah Setelah Kematian" didemo oleh warga NU

Buku itu dianggap meresahkan karena mengkritik masyarakat Islam yang sudah terbiasa mengamalkan suatu tradisi yang tidak bersumber ajaran Islam. Yang menarik dan unik, buku itu dicetak dan diedarkan Dinas Sosial Pemerintah Kabupaten Bantul Yogyakarta.

Akibat demo itu, pemkab Bantul menarik peredaran buku itu, karena dianggap meresahkan warga NU. Warga yang tergabung dalam Forum Pecinta Tahlil dan Budaya itu terdiri dari GP Ansor Bantul, Banser Bantul, dan PC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Merekameminta bukan hanya menarik peredaran buku tetapi meminta memusnahkan buku itu. Bahkan dalam demontrasi itu, pendemomeminta kepada Dinas Sosial (Dinsos) untuk meminta maaf secara terbuka kepada warga NU, dan kemudian mengembalikan dana yang dipergunakan untuk mencetak buku itu kepada kas negara. Yang dianggap meresahkan oleh para pendemo itu bahwa buku itu menyatakan bahwa acara 40, 100 dan 1000hari setelah kematian adalah tradisi Hindu dan tradisi Firaun yang tidak layak diikuti umat Islam. (muslimedianews.com16/3/2016)

Sementara dari kalangan pesantren juga menyatakan kemarahannya. Pengasuh pondok pesantren An-Nawwawi, Jejeran, Wonokromo, Pleret Uwaisun Nawwawi menyatakan keberatan terhadap isi buku itu, khususnya yang termuat dalam Bab III halaman 37 tentang “Amalan yang merugikan mayat” seperti upacara menerobos keranda mayat, kenduri, tahlilan, dan doa yasinan. Dia menyatakan “Penulis buku itu telah menyebut ritual itu sebagai tradisi Hindu dan Fir’aun. Isi buku ini diyakini berpotensi melahirkan konflik sosial. Amalan ini bukan hanya dilakukan oleh warga NU tetapi dilakukan sebagian besar umat Islam di Jawa. Maka Pemda Bantul hendaknya menarik buku itu.” (RadarYogya, 8/3/2016)

Realitas di atas menunjukkan bahwa masyarakat kita belum terbiasa dalam menerima dan menghargai perbedaan. Apayang dipaparkan buku itu menjelaskan Sunnah-Sunnah yang diajarkan Islam pasca kematian seseorang. Sementara ritual yang dijalankan masyarakat itu bersumber dari tradisi Hindu. Pada umumnya, saat melaksanakan suatu ritual tidak mempertanyakan apakah yang mereka lakukan bersumber dari Islam atau tidak. Mereka melakukan saja apa yang mereka lihat. Oleh karenanya, ketika muncul buku yang menjelaskan tentang ajaran Islam yang benar, serta merta mereka tolak tanpa tabayyun.

Kalau merunut pada sejarah pertumbuhan di Jawa, Islam tidak lepas berinteraksi dengan budaya Jawa. Sebagaimana diketahui bahwa budaya Jawa tidak bisa dipisahkan dari budaya Hindu yang sedemikian kuat mengakar di masyarakat. Artinya, masyarakat Jawa tidak bisa dilepaskan dari tradisi Hindu yang sudah tertanam kuat sekian lama. Maka di saat Islam datang di Jawa, para ulama tidak secara langsung menghilangkan tradisi yang sudah mendarah daging itu. para penyebar Islam awal itu berasumsi bahwa budaya yang bersumber bersumber dari Hindu itu akan pelan-pelan hilang sejalan diterapkannya ajaran Islam secarakaffah(utuh). Namun setelah kematian mereka, harapan itu tidak dilanjutkan oleh para juru dakwah periode selanjutkan dengan beberapa alasan. Implikasinya, tradisi Hindu yang belum sempat terhapus itu dianggap oleh masyarakat (NU) sebagai bagian dari Islam. Maka sangat wajar ketika muncul buku yang meluruskan hal itu langsung menimbulkan gejolak.

Penulis buku itu (Zainal Abidin, Lc) bukan hanya pernah hidup di lingkungan NU, tetapi juga dibesarkan dalam tradisi itu. Oleh karena itu, ketika mengetahui hal tersebut tidak diperoleh sumber yang otentik dari ajaran Nabi, maka dia menuliskan hal itu dengan harapan ada pemahaman yang benar dan lurus. Namun yang patut disayangkan adalah respon yang ditunjukkan para pendemo yang jauh dari sikap Islam yang toleran dan santun. Cara kekerasan dan intimidasi lebih dikedepankan daripada cara-cara yang akademis dan moderat. Salah satu contoh yang ditunjukkan adalah melakukan demonstrasi dan menuntut pemusnahan buku itu. Pemusnahan buku bukan hanya tindakan panik tetapi kontra produktif terhadap kehidupan beragama.

Kenapa munculnya buku itu tidak dikaji saja secara ilmiah dengan mendatangkan penulisnya dan mendiskusikannya secara ilmiah dengan melibatkan akademisi di tempat yang netral. Kalaupun dianggap melanggar, maka jalur hukum bisa ditempuh guna mendidik dan mendewasakan masyarakat. Memobilisasi massa dengan mengedepankan kekerasan justru akan menciptakan situasi kacau (chaos) dan berujung konflik horisontal.

Sementara masyarakat kelas bawah (grassroots) umumnya tidak mengikuti suatu ajaran kecuali mengikuti apa yang dilakukan oleh tokohnya. Masyarakat awam tidak akan banyak menuntut rujukan dan dalil yang benar tetapi memandang bahwa apa yang dilakukan tokoh itu sebagai sebuah kebenaran. Masyarakat melakukan tradisi pasca kematian seperti tahlil, yasinan, dan sebagainya hanyalah mengikuti apa yang pernah didengar dan dilakukan pendahulunya.

Sudah waktunya masyarakat diajak untuk belajar guna menemukan kebenaran. Bukan sebaliknya, yakni memperalat untuk kepentingan sesaat dengan berbagai dalil seperti menghormati budaya atau menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat. Melestarikan budaya seperti ini bukan hanya membodohi masyarakat tetapi akan mereproduksi peradaban anarkis. Kita berharap agar tokoh dan ulama bisa membimbing masyarakat untuk menemukan kebenaran dan menjalankannya dengan benar dan membedakannya dengan kesalahan yang tidak bersumber dari ajaran Islam yang benar.

Surabaya, 17 Maret 2016

*Penulis adalah dosen UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Sumber: FokusIslam - http://fokusislam.com/2222-memaknai-reaksi-nu-terhadap-buku-sunnah-sunnah-setelah-kematian.html
loading...
error: Content is protected !!