Banner_Header

Humor Ulama, Kumpulan Humor dan Candaan Segar Syaikh Utsaimin -Rahimahullah-


BuletinIslami.Com - Siapa yang tidak kenal dengan asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah? Setiap penuntut ilmu syar'i sudah pasti kenal beliau. Beliau adalah seorang syaikh yang berwibawa, disegani, dari beliau kita banyak mengambil fatwa, nasihat dan pelajaran ilmu syar'i yang bermanfaat.

Namun tahukah Anda? ternyata beliau ini bukanlah tipe orang yang kaku dan berwajah menyeramkan dalam mengajar, beliau adalah seorang ulama yang humoris. Terkadang kewibawaannya dalam mengajar ataupun ketika menjawab suatu pertanyaan diselingi oleh canda ringan (guyonan) yang membuat orang-orang di dekatnya tidak merasa kaku bergaul dengan beliau. Meskipun beliau suka bercanda, namun candaan beliau tidak pernah lepas dari ilmu.

Humor Ulama, Kumpulan Humor dan Candaan Segar Syaikh Utsaimin -Rahimahullah-
Foto: Raja Abdullah (kiri) dan Syaikh Utsaimin (kanan)

Berikut ini kumpulan kisah humor candaan ala syaikh Utsaimin yang berhasil kami rangkumkan dari beberapa risalah baik berupa kaset rekaman ceramah maupun cerita dari murid-murid beliau.

Pernah terjadi kejadian unik yang membuat beliau tertawa. Suatu saat, datang kepada beliau seseorang dari salah satu negara Arab, serta – merta dia bertanya,

“Apakah Anda asy-Syaikh  Utsaimin ?”

“Ya,” jawab beliau.

Orang itu pun menyambung dengan pertanyaan, “Demi Nabi, wahai Syaikh, apa hukumnya thawaf wada‘ ?”

Sebelum menjawab, karena orang itu bersumpah dengan selain nama Allah ‘Azza wa Jalla, terlebih dahulu Syaikh mengingkari kebiasaan tersebut dan mengatakan, “Wahai saudara, semoga Allah ‘Azza wa Jalla membalasi Anda dengan kebaikan. Tidak boleh bagimu mengatakan, ‘Demi Nabi’, Anda harus membiasakan diri meninggalkan kebiasaan mengucapkan kata – kata ini, karena ini adalah kalimat kesyirikan.”

Beliau juga menasihatinya dengan lembut dan bagus. Orang itu pun berterima kasih seraya berkata, “Siap, wahai Syaikh. Tetapi, apa hukum thawaf wada’ itu, demi Nabi ?”

Akhirnya Syaikh tertawa. Ternyata lisan orang tersebut memang terlalu terbiasa mengucapkan sumpah yang salah.

-o0o-

Di waktu lain datang kepada beliau seorang wartawan dan mengatakan, “Wahai Syaikh, kami berharap, bisa menjalankan bersama Anda hiwar (maksud si wartawan: wawancara, tetapi kata tersebut memiliki makna lain, yaitu anak unta).”

Syaikh menjawab, “Wahai anakku, hiwar itu kan anak unta. Bagaimana engkau akan menjalankannya bersama saya ?! Yang mungkin, engkau ingin melakukan muhawarah(wawancara) bersamaku.”

BACA JUGA! Humor Ulama, Candaan Segar Antara Syaikh bin Baz dan Syaikh al-Albani

Suatu saat seorang wanita dari Maroko menemuinya ketika di Masjidil Haram dan mengatakan, “Anda  Utsaimin ?” tanyanya.

“Ya, saya,” jawab beliau.

Wanita itu pun menukas, “Orang – orang mengatakan bahwa Anda sudah mati dan kami telah menyalati Anda dengan shalat ghaib ba’da maghrib.”

“Tidak -wallahi- inilah saya,” tegas  Utsaimin.

Wanita itu heran sambil mengatakan, “Jadi, bagaimana ?”

Dengan bercanda beliau mengatakan, “Ya, saya setiap hari mati, lalu Rabbku menghidupkanku.”

Terdiamlah wanita itu dan kaget. Sambil berpaling wanita itu mengatakan, “Syaikh telah pergi, syaikh telah pergi, syaikh telah pergi.”

Sementara itu, asy-Syaikh  Utsaimin tersenyum melihatnya. Namun, Syaikh khawatir wanita itu menanggapinya serius dan salah paham. Maka beliau utus seseorang untuk memanggilnya. Setelah wanita itu datang lagi, beliau menjelaskan, “Saya tadi bercanda denganmu. Saya mati lalu hidup tiap hari. Artinya, saya tidur lalu bangun tiap hari, karena Allah berfirman,

“Allah memegang jiwa (seorang hamba) ketika matinya dan (memegang) jiwa (seorang hamba) yang belum mati di waktu tidurnya. Maka, Dia tahanlah jiwa (hamba) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda – tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” (az-Zumar : 42)

Menjadi tenanglah wanita tersebut. Ia berterima kasih kepada Syaikh lalu pergi. [1]

-o0o-

Salah seorang penuntut ilmu bercerita tentang jawaban cerdas yang ia dengar dari sebuah pertanyaan. Penanya mengatakan bahwa ia telah menikah namun ia ingin menikah kedua kalinya dengan niat menjaga kehormatan sang gadis.

Lalu jawaban Syaikh  Utsaimin, “Berikanlah uangmu kepada pemuda miskin agar ia bisa menikahi gadis tersebut. Dengan demikian engkau mendapatkan dua pahala (Pahala menjaga kehormatan sang pemuda dan si gadis).“

-o0o-

Kisah humor terpilih lainnya, suatu ketika Syaikh  Ustaimin dan Syaikh  Baz rahimahumullah duduk dalam satu majlis lalu seseorang bertanya kepada beliau berdua,
“Saat ini, telah ditemukan alat yang bisa mengingatkan kita jika lupa dalam shalat. Seseorang tidak akan lupa lagi selama menggunakan alat ini. Apa hukum menggunakan alat semacam ini?”

Syaikh  Baz terdiam namun Syaikh  Ustaimin tertawa lalu bertanya, “Apakah dia bertasbih atau bertepuk tagan? (Maksud Syaikh jika bertasbih berarti laki-laki, sebaliknya jika bertepuk tangan berarti perempuan).”

-o0o-

Sudah dikenal dikalangan penuntut ilmu bahwasanya syaikh Utsaimin ini humoris, termasuk ketika Syaikh  Ustaimin ditanya,
“Apa yang harus dilakukan seseorang seusai berdoa?”

Jawab Syaikh, ” Menurunkan kedua tangannya.”

-o0o-

Pertanyaan lain, ”jika seseorang mendengarkan ayat sajadah melalui kaset rekaman, apakah dia harus sujud?”

Lagi-lagi syaikh menjawab dengan diselipi humor,
“Ya. Jika kasetnya juga sujud.”

-o0o-

Suatu ketika Syaikh  Utsaimin memberikan materi pelajaran bab nikah tentang aib wanita.
Salah seorang peserta pengajian bertanya, “Jika suatu saat nanti aku menikah lalu kutemui istriku ternyata dia ompong. Apakah aib ini bisa jadi alasan untuk membatalkan akad nikah?”

Syaikh menjawab, “Berarti dia seorang wanita yang baik-baik karena tidak mungkin menggigitmu.”

-o0o-

Suatu saat Syaikh  Utsaimin shalat di Masjidil Haram, Mekah. Usai shalat beliau keluar dan hendak pergi ke suatu tempat yang agak jauh, sehingga membutuhkan mobil. Belaiu menyetop taksi lalu melaju bersamanya. Dalam perjalanan tersebut sang sopir berkenalan dengan sang penumpang.

Tanya si sopir, “Nama Anda siapa ya syaikh?”
Syaikh menjawab ” Muhammad bin Utsaimin, ”
Si sopir terkejut, “Anda Syaikh Utsaimin?” Si sopir mengira Syaikh berbohong. Dia tidak ingat sama sekali bahwa orang yang bersamanya memang seperti Syaikh Utsaimin.
Jawab Syaikh, “Ya benar Syaikh.”
Lalu Syaikh bertanya, ”Nama Anda siapa Akh?”
Jawab sopir, “Syaikh Abdul Aziz bin Baz.”
Sontak Syaikh Utsaimin terbahak, “Engkau Syaikh Abdul Aziz Bin Baz?”
Si sopir menimpali, “Kalau demikian apakah engkau Syaikh  Utsaimin?”
Syaikh menjawab, “Tetapi Syaikh Abdul Aziz buta bagaimana mungkin bisa nyopir mobil?”

Tatkala keluar dari taksi barulah si sopir percaya bahwa memang benar syaikh tersebut adalah Syaikh Utsaimin. [2]

-o0o-

Lihatlah Saudaraku, para ulama tersebut tidaklah kaku dalam berdakwah, beliau menyelingi dakwah dengan candaan/guyonan. Namun juga tidak berlebihan dalam bercanda, beliau menghiasi ilmu di setiap ucapannya bahkan dalam hal bercanda.

Bercanda ada aturannya diantaranya tidak merendahkan orang lain dan tidak berbohong. Semoga candaan ini bisa sedikit menyegarkan pikiran Anda. #senyoom

Sumber:
1. Majalah Asy-Syari’ah No.91/VIII/1434 H/2013
2. Marja’ : http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/archive/index.php/t-37842.html (Copas via akh Fahmi)

[ES/BuletinIslami]


loading...
error: Content is protected !!