Banner_Header

Kisah Islami, Khalifah Al Makmun dan Nenek Moyang Penemu Google Maps (Bola Dunia)

BuletinIslami.Com - Khalifah Al Makmun & Nenek Moyang Bola Dunia Google Maps, Jika ada orang yang layak diberikan kredit sebagai perintis bola dunia, Khalifah Al Makmun dari Dinasti Abbasiyah -yang berkuasa pada 813-833 M- pantas buat diberi nomor pertama. Beliau lah yang memerintahkan “Mr. Einstein abad ke 2 H”, MuḼammad bin Musa al-Khawarizmi, untuk menyusun bola dunia berdasarkan gabungan peta-peta daerah kekuasaan Islam dan daerah-daerah lain yang pernah dijangkau para penakluk lautan.

Kunjungan saya ke Museum Islam Turki sangat membantu melihat gambaran jelas beberapa bukti peninggalan tersebut lantaran koleksi peta-peta kuno tersebut sebagian atau seluruhnya masih dapat disaksikan.

Bola Dunia Khalifah Al-Makmun di Museum Islam Turki

Turki sejak dua abad belakangan mengerahkan banyak begawan ilmu sejarah dunia untuk membantu merekonstruksi sejumlah peninggalan Islam. Diantara ahli sejarah yang datang, sebutlah Johann Wolfgang von Goethe, tokoh besar Jerman abad 18. Hasilnya memang mengagumkan. Mereka mampu mengemasnya dengan mewah sehingga jadi tujuan wisata. Padahal peninggalan Konstantinopel atau Byzantium juga udah kepalang banyak. Tapi liat peninggalan kuno konstantinopel berasa udah terlalu mainstream buat orang bule. Mereka lebih ngantri mampir ke Blue Mosque, atau mesjid kuno lain seperti Hagia Sophia, museum teknologi Islam, dll yang masih dalam satu kawasan luas kayak TMII.

Ini kejujuran sebetulnya. Jujur dengan nasab dan identitas. Jadi orang bule ga berasa ketipu. Ya Bule kalo ke Turki emang tau disana negara muslim. Kalo ke Turki, siap-siap denger azan, lihat mesjid, kebab merajalela, dll.

Jujur itu memang selalu menguntungkan. Coba kalo boong. “Indonesia tuh Bali. Bali itu pantai Kuta. Disana banyak Pura dan Candi. OK, gw ke Indo dah bawa papan selancar”, pikir si Bule. Eh, ga taunya pas sampe Indo…. banyak mesjid, azan dimana-mana suer kuenceng banget, orang-orang koq pada pake peci, bukannya pake dodot yang dipakai wanita bali sampai nutupi dada. Candi ga ketemu kecuali setelah lompat pake “Singa Udara”, atau “Udara Asia” ke tempat nan jauh. Itu pun kudu nyambung lagi beberapa jam pake bis.

Taunya di Indonesia ada Ramadhan, di mana warung makan pada pasang spanduk “Ga melayani selama Ramadhan kecuali pas buka”. Keroncongan dah tuh bule. Ga kasian sama Bule? Doi ketipu sama poster-poster travel “Visit Indonesia”.

Ah, capek dah mikirin pariwisata Indonesia yang katanya udah ditangani ahli propesor doktor insinyur. Kreatif itu ya imajinasi tanpa batas. Tapi ya ini pariwisata kreatif koq itu-itu aja. Koq selalu nunut filosofi Opa Arsene Wenger. “Lets just sends Arsenal out to play the same old way every game and hopes for the best”.

Balik ke Al-Makmun. Apa yang unik? Bola dunia Al Makmun sebagaimana Anda lihat di foto saya ini dibuat 7 abad sebelum Columbus susah payah yakinkan orang Eropa kalo bumi itu bundar. Kalo ngarungi lautan ke ujung dunia itu ga bakalan jeblos ke dalam jurang tak berujung. Berangkat dari Palermo Italia ke arah depan bisa muncul lagi ke tempat yang sama dari arah berlawanan.

Orang Islam, sejak Al-Quran turun, percaya bahwa bumi itu bulat. Karena jelas-jelas disebutkan dalam Quran. Imam Ibnu Taymiyah (661 H) membuat statement yang kelewatan dalam majmu fatawa, “semua ulama telah sepakat, kecuali yang bodoh, bahwa bumi itu bulat”.

Berhubung Khalifah Al-Makmun rasa penasarannya tinggi, buat dia ga cukup iman doang. Beliau kekeh untuk pembuktian. Ekspedisi aneh-aneh sudah dilakukan kekhalifahan Abbasiyah selama kurun yang panjang. Bahkan semisal ekspedisi mencari lokasi dimana Iskandar Zulkarnain menutup jalan masuk Yajuj & Majuj dengan membuat gerbang besi raksasa (lihat akhir surat al Kahfi dan lihat bidayah nihayah Ibnu Katsir).

Bagaimana cara pembuktian ini? Beliau kumpulkan semua ilmuwan geografi zaman itu dan disatukan dibawah pimpinan Al-Khawarizmi, sang pencipta konsep matematika Aljabar. Ngga kurang sampai 60 geografer. Lalu dikumpulkan semua peta yang pernah dijelajahi manusia dan diproyeksikan dan disusun semuanya pada sebuah bola. Jadi, Khalifah Al-Makmun membiayai para petualang untuk menyusuri berbagai belahan penjuru dunia dan membuat peta perjalanannya.

Bukan kerjaan gampang buat Al Khawarizmi, lantaran ilmu geografi dan matematika belumlah matang seperti sekarang. Setiap peta punya teknik dan rumusan baca mereka sendiri yang ga sinkron satu sama lain. Al Khawarizmi membuat garis lintang dan bujur serta mengukur proyeksi sudutnya supaya dapat menyatukan tiap peta. Bahkan pembagian garis lintang dan bujur ini jauh beliau buat 7 abad sebelum Mercator memperkenalkan proyeksi petanya tahun 1569.

Kalo Anda belajar geografi modern, saya jamin nama Mercator lebih nyantol di kepala ketimbang nama perintis aslinya ini. Bukan salahmu, Nak. Orientalis kalo nulis sejarah, mereka menghapus rujukan asli dimana si sumber bule tersebut mengutip dan menyebut. Sebutlah nama seperti Roger Bacon, Edward de Cremona, Copernicus, Kepler, dll yang sebetulnya lebih pas disebut pengembang, pengkopi paste, “seniman pencuri”, ketimbang disebut "Perintis" atau "Penemu". Lantaran riset mereka banyak mengandalkan rujukan primer ilmuwan Arab beberapa abad sebelum mereka.

Kurikulum Indonesia masih inferiority complex buat cantumin nama-nama beken semisal, Al Idrisi, Al Khawarizmi, Ibnu Yunus Al-Safadi, dll di buku sejarah dan geografi. Don’t know them? That’s not your fault my nigga. We are donkey here.

Kisah Islami, Khalifah Al Makmun dan Nenek Moyang Penemu Google Maps
Peta Bola Dunia Al-Makmun
Globe ini menunjukkan sebagian besar benua Eurasia dan Afrika dengan garis pantainya dan samuderanya. Ini menggambarkan dunia seperti yang dikenal para pelaut Arab yang menggunakan siklus angin monsoon untuk perdagangan sampai jarak yang maha luas (Pada abad ke-9 M, pedagang laut Arab telah mencapai Guangzhou, China). Peta dari Yunani dan Romawi mengungkapkan pengetahuan yang baik dari laut yang jarang diberitakan seperti laut Mediterania tapi sedikit pengetahuan dari hamparan laut yang luas di luar sana.

Bahkan petanya mencakup Samudera Hindia / Indonesia. Indonesia di gambarkan seperti negeri dengan tumpukan “bola-bola” pulau kecil. Pembaca Indonesia yang jenius tentu paham, betapa peta ini dengan bisunya membantah teori Gujarat, Islam masuk Indonesia baru pas abad 13. It was sooo wrong, my dear…

Sudah ada petualang Arab mampir ke negara kita dan membuat petanya 5 abad sebelum itu. Satu abad sebelum Dinasti Syailendra membuat candi Borobudur di abad 9 M. Duh, sejarawan koq fakir data.

Pada lampiran foto ada penjelasan globe ini dalam bahasa Arab yang saya transkrip sbb:
“Bola dunia ini dibuat berdasarkan peta dunia yang dibuat oleh para ulama (ilmuwan) pada awal kurun 3 H atas perintah Khalifah Al Makmun Al Abbasi ketika memerintah Baghdad (wafat tahun 218 H). Dibuat berdasarkan kumpulan gambaran bumi yang dikenal para pendahulu mereka, tetapi mereka rekonstruksi dan perbaiki besar-besaran, diperluas dengan jaring-jaring derajat lintang dan bujur yang umumnya dihasilkan dari pengetahuan astronomi.

Peta ini telah hilang sebelum akhirnya dibuat versi barunya pada tahun 80-an. Bola ini menampilkan kemajuan dalam gambaran bentuk bumi secara kartografi, baik bagi dunia Islam, maupun dunia Eropa juga terpengaruh cukup panjang secara langsung maupun tidak langsung.”

Penemuan, rekonstruksi sejarah dan penyajian Bola dunia Al Ma'mun, serta artefak lainnya yang ditampilkan di museum, adalah karya Profesor Fuat Sezgin, yang pada tahun 1982 mendirikan Institut Sejarah Sains Arab-Islam di Johann Wolfgang Goethe University di Frankfurt / Main.

Al Makmun Mengukur Dunia
-------------------------------------
Penulis Cultural foundations of mathematics : the nature of mathematical proof and the transmission of the calculus from India to Europe in the 16th menyatakan dalam bab “Measuring the size of the globe (mengukur ukuran dunia) sbb:
“Sementara unit satuan jarak India (Yojana) tidak mampu menyesuaikan dengan ukuran unit satuan modern, satuan unit Arab mampu. Al Makmun cukup mengirim penjelajah ke padang pasir Syria. Mereka bergerak satu derajat dari utara ke selatan dan secara hati-hati mengukur jarak perjalanannya. Mereka sampai pada kesimpulan angka 56⅔ mil per derajat meridien Arab. Ada pertanyaan bagaimana mengkonversi dari hitungan abad pertengahan ke unit modern. Pertanyaan ini dengan susah payah coba dibuktikan oleh Nallino tahun 1892. Dia menyimpulkan bahwa 56⅔ mil per derajat meridien Arab sama dengan 111.8 km per derajat yang secara menakjubkan sangat dekat kepada nilai akuratnya, yaitu 111.3 km. Hasil ini bukanlah hitungan kebetulan!”

Sumber: https://www.facebook.com/arismunandarjogja/posts/499051913614282
loading...
error: Content is protected !!