Banner_Header

Syawwal of Love, Keutamaan dan Anjuran Menikah di Bulan Syawwal ^^


BuletinIslami.Com - Keutamaan Menikah di Bulan Syawwal, Dalam sejarah perjalanan hidup Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wassalam, bulan syawal ini telah mencatat berbagai peristiwa penting, seperti perang Uhud pada tahun ke-3 H, perang Khandaq (parit) atau yang dikenal dengan perang Ahzab (golongan-golongan) pada tahun ke-5 H, dan perang Hunain pada tahun ke-8 H, semuanya terjadi pada bulan syawal.

Pada bulan ini pula Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam menikahi Aisyah Radiyallahu ‘anhaa di tahun ke-11 kenabian, saat itu Aisyah Radiyallahu ‘anhaa berusia 6 atau 7 tahun, dan membangun rumah tangga (berkumpul) dengannya juga pada bulan tersebut, tepatnya sekitar tujuh bulan setelah hijrah, ketika Aisyah Radiyallahu ‘anhaa berusia 9 tahun.
Keutamaan dan Anjuran Menikah di Bulan Syawal
Ilustrasi: Keutamaan dan Anjuran Menikah di Bulan Syawwal

Pada dasarnya menikah itu tidak terikat dengan waktu tertentu. Kapan saja, hari apapun dan bulan apapun seseorang boleh menikah. Sebab dalam aqidah Islam tidak ada yang namanya hari dan bulan buruk, hari dan bulan sial untuk sebuah pernikahan. Semua waktu adalah baik.

Namun demikian, sebagian orang masih meyakini adanya hari sial dan bulan sial. Dan dalam menentukan waktu pernikahan mereka menghitung-hitung dan mencari waktu yang mereka yakini sebagai waktu yang baik, hari dan bulan baik, supaya terhindar dari bala bencana, seperti perceraian, menurut anggapan mereka.

Keyakinan seperti itu disebut tasyaum atau thiyarah (anggapan sial terhadap sesuatu) yang tentu bertentangan dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang bersabda,

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ، وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الصَّالِحُ: الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ [رواه البخاري ومسلم]

“Tidak ada (sesuatu) yang menular dan tidak ada (sesuatu) yang sial (yakni secara dzatnya), dan aku kagum dengan al-fa’l ash-shalih, yaitu kalimat (harapan) yang baik.” (HR.  Al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam menjelaskan bahwa anggapan sial pada sesuatu secara dzatnya itu termasuk kesyirikan. Beliau Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda,

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، وَمَا مِنَّا إِلَّا، وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

“Thiyarah (anggapan sial terhadap sesuatu) adalah kesyirikan. Dan tidak ada seorang pun di antara kita melainkan (pernah melakukannya), hanya saja Allah akan menghilangkannya dengan sikap tawakkal.” (HR.  Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 429).

Di masa jahiliyyah dahulu, masyarakat Arab meyakini adanya suatu masa yang bila melakukan pernikahan atau membangun rumah tangga maka tidak akan beruntung alias sial, yaitu bulan Syawal. Anggapan ini mereka sandarkan kepada keadaan unta betina yang mengangkat ekornya (sya-lat bi dzanabiha) sebagai tanda penolakan terhadap unta jantan yang mendekatinya. Karena itulah para wanita mereka menolak untuk dinikahi atau para wali wanita menolak untuk menikahkan anak wanitanya.

Setelah Islam datang dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam secara bertahap menancapkan tiang-tiang akidah yang lurus, sehingga sedikit demi sedikit orang-orang memeluk Islam. Maka di tengah-tengah dakwah beliau kepada tauhid dan menghapus kesyirikan di bumi Mekkah saat itu, beberapa saat setelah isteri beliau tercinta Khadijah Radiyallahu ‘anhaa wafat pada bulan Ramadhan, maka pada bulan Syawal yaitu di tahun ke-11 kenabian (dua atau tiga tahun sebelum hijrah) beliau menikahi Aisyah hyang saat itu berusia 6 atau 7 tahun. Dan setelah itu menikahi isteri beliau Shalallahu ‘alaihi Wassalam Saudah binti Zam’ah Radiyallahu ‘anhaa pada bulan yang sama. (Lihat Fathul Bari karya Ibnu Hajar, 7/225)

Aisyah Radiyallahu ‘anhaa juga berkata,

تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ e فِي شَوَّالٍ، وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ، فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللهِ e كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي؟، قَالَ: ((وَكَانَتْ عَائِشَةُ تَسْتَحِبُّ أَنْ تُدْخِلَ نِسَاءَهَا فِي شَوَّالٍ)) [رواه مسلم]

“Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan syawal pula. Maka isteri-isteri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” (Perawi) berkata, “Aisyah Radiyallahu ‘anhaa dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal.” (HR. Muslim)

Al-Imam An-Nawawi menerangkan hadits di atas di dalam syarah Shahih Muslim (9/209),

“Di dalam hadits ini terdapat anjuran untuk menikahkan, menikah, dan membangun rumah tangga pada bulan Syawal. Para ulama kami (ulama syafi’iyyah) telah menegaskan anjuran tersebut dan berdalil dengan hadits ini. Dan Aisyah Radiyallahu ‘anhaa ketika menceritakan hal ini bermaksud membantah apa yang diyakini masyarakat jahiliyyah dahulu dan anggapan takhayul sebagian orang awam pada masa kini yang menyatakan kemakruhan menikah, menikahkan, dan membangun rumah tangga di bulan Syawal. Dan ini adalah batil, tidak ada dasarnya. Ini termasuk peninggalan jahiliyyah yang bertathayyur (menganggap sial) hal itu, dikarenakan penamaan syawal dari kata al-isyalah dan ar-raf’u (menghilangkan/mengangkat).” (yang bermakna ketidakberuntungan menurut mereka).

Dari penjelasan Al-Imam An-Nawawi terhadap hadits Aisyah Radiyallahu ‘anhaa di atas jelaslah hikmah dari dianjurkannya menikah, menikahkan dan membangun rumah tangga pada bulan Syawal, yaitu untuk menyelisihi keyakinan dan kebiasaan jahiliyyah. Anjuran tersebut tentu memiliki keutamaan, dan telah dijelaskan oleh Aisyah Radiyallahu ‘anhaa dalam hadits di atas, ketika ia mengatakan, “Maka isteri-isteri Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang manakah yang lebih beruntung dariku?”. Keutamaan menikah di bulan Syawwal tersebut berupa keberuntungan, bukan kesialan sebagaimana anggapan takhayul jahiliyyah.

Demikianlah, akhirnya Islam menetapkan sunnahnya mengadakan pernikahan dan membangun rumah tangga di bulan Syawal, terutama di tengah masyarakat yang meyakini kesialan bulan tersebut untuk sebuah pernikahan.

Nah, Ternyata kita sekarang telah memasuki awal bulan Syawal lho. Ayo, siapa yang mau melaksanakan sunnah nikah di bulan syawal? Buruan, mumpung masih ada kesempatan. [VA/BuletinIslami.Com]
...

Sumber : Radio Sunnah

loading...
error: Content is protected !!